Proses Penyusutan Kepala

20 November 2009 pukul 8:28 PM | Ditulis dalam LifeStyle, World | Tinggalkan komentar

Proses Penyusutan Kepala.. (tsantsas)

1. Buka kepala bagian belakang dan lepaskan kulitnya. Hati-hati untuk tidak merusal bagian wajah. Setelah itu direbus dalam air selama satu setengah jam (jangan kelamaan, nanti rambutnya copot semua..)
2. Setelah dikeringkan dengan dijemur, kulit berubah dan lapisan-lapisan yang tidak dibutuhkan akan lepas. Kulit menjadi seperti kantung dan batuan panas digunakan untuk membakar lemak di dalamnya.
3. Pasir panas digunakan untuk mencapai bagian yang sulit dijangkau oleh batuan panas, seperti bagian hidung dan bibir. Si pembuat akan "memijit" kulit untuk membantu proses pengeringan dan mengembalikan bentuk kepala.

 

4. Proses diulangi terus, dan bisa mencapai 6 hari lamanya, sampai ukuran kepala menjadi seperempat dari ukuran aslinya.
5. Si ksatria harus memastikan tidak ada serangan balas dendam dari yang mati itu. Caranya :
– mata dijahit biar tertutup (untuk mencegah roh melihat)
– bibir di kunci dengan semacam tusukan dari kayu (untuk mencegah roh untuk minta dibalaskan dendamnya)
6. Sekarang si ksatria aman, roh yang dibunuh akan tetap tinggal di alamnya.
Fakta-Fakta yang ada :
– Pemburu kepala banyak diterapkan di berbagai belahan dunia, tapi cuma di Amazon yang dilanjutkan dengan penyusutan.
– Hanya suku Shuar di Amazon yang mempraktekkan penyusutan kepala. Dan mereka dikenal sebagai suku paling ganas. Dan merupakan satu-satunya suku yang tidak ditaklukkan oleh bangsa Spanyol saat itu.
– Proses penyusutan dilakukan untuk mencegah aksi balas dendam roh.
– Kepala yang disusut, istilahnya "tsantsas" dikomersilkan dan dikoleksi lho. Sekarang harga tsantsas berkisar USD 30.000.. wow..
– Tidak ada bukti konkrit bahwa saat ini seseorang dibunuh untuk membuat tsantsas untuk dikomersilkan.
– Beberapa percaya bahwa dengan menyentuh tsantsas, roh akan merasuki mimpimu dan membuat mereka tidak damai.

 

kalau di kalimantan,khususnya kalimantan tengah dulu pernah dikenal "ngayau"

Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. Iban Adalah salah satu suku Dayak yang memiliki adat Ngayau. Pada tradisi Ngayau yang sesungguhnya, Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh.
Makna dari Ngayau mempunyai arti turun berperang dalam rangka mempertahankan status kekuasaan misalnya mempertahankan atau memperluas daerah kekuasaan yang dibuktikan banyaknya kepala musuh. Semakin banyak kepala musuh yang diperoleh semakin kuat/perkaya orang yang bersangkutan.
Adat Ngayau pertama kali urang Libau Lendau Dibiau Takang Isang (kayangan) yang saat itu sebagai tuai rumah (kepala kampung) yang bernama Keling. Berkat keberaniannya dan kegagahannya dia diberi gelar keling Gerasi Nading, Bujang Berani kempang (keling merupakan orang yang gagah berani). Gelar tersebut diberikan oleh seseorang tetua Iban yang bernama Merdan Tuai Iban yang saat itu tinggal di Tatai Bandam (masuk dalam wilayah Lubuk Antu Sarawak Malaysia).
Seiring dengan kemajuan jaman, Upacara adat Ngayau yang sering dilakukan mempunyai makna mengisyaratkan atau memberitahukan generasi muda tentang peristiwa Ngayau pada jaman dulu.

Ngayau merupakan tradisi suku dayak yang mendiami Pulau Kalimantan, baik suku dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya termasuk Malaysia mengenal tradisi Ngayau, Namun pada gelar Budaya Dayak ini dikhususkan …
Dalam tradisi orang Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau dari kata “kayau” atau “kayo’; yang artinya mencari. Mengayau artinya mencari kepala; ngayau adalah orang yang mencari kepala. “Ada ngayau”, artinya ada orang …
Dalam tradisi orang Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau dari kata “kayau” atau “kayo’; yang artinya mencari. Mengayau arti*nya men*cari kepala; ngayau adalah orang yang menca*ri kepala. “Ada ngayau”, artinya ada …
Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi ngayau yang ada jaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak. Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang". Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk …
Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. Iban Adalah salah satu suku Dayak yang memiliki adat Ngayau. Pada tradisi Ngayau yang …
8000 SM : Migrasi manusia ras Austrolomelanesia memasuki daratan Kalimantan. 2500 SM : Migrasi nenek moyang suku Dayak dari Formosa (Taiwan) ke Kalimantan membawa tradisi ngayau. 1500 SM : Migrasi bangsa Melayu Deutero ke pulau …
Ngayau tidak terlepas dari keyakinan komunitas Dayak sebagai sebuah entitas. Hal ini dapat ditelusuri dari cerita lisan dan tradisi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Menurut keyakinan yang dipegang teguh, orang Dayak yakin mereka adalah … Patut diberi catatan tambahan bahwa ngayau di kalangan suku Dayak umumnya, dan Dayak Djongkang khususnya, bukan sekadar memanggal kepala musuh. Ada filosofi yang melatarinya. Banyak kandungan hikmah, meski sekilas tampak sadis, …

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: